Resolusi Cinta Tani untuk Kemandirian Bangsa

September 24th, 2013  by 

Barang siapa mandiri dalam mencukupi kebutuhan pangan bangsanya maka bangsa itu akan tegak disaat yang lain kesulitan bertahan dalam perkembangan dunia

Pangan merupakan sesuatu yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Hampir seluruh aktivitas manusia membutuhkan pangan sebagai sumber energi. Dalam perkembangan kehidupan umat manusia dengan pertumbuhan yang begitu cepat melebihi laju ketersediaan pangan rasanya ungkapan diatas tidaklah berlebihan. Dalam ruang lingkup pemenuhan kebutuhan pangan suatu bangsa tentu kemandirian menjadi sesuatu hal yang penting. Bagaimana suatu bangsa akan bisa berkelanjutan jika masih menggantungkan penyediaan pangannya dari luar negeri.

Belakangan isu ketahanan pangan menjadi sesuatu bahan pembicaraan yang kembali menghangat. Saat beberapa komoditas pangan mendadak menjadi mahal bahkan beberapa diantaranya hilang dari pasaran. Kondisi ini menyebabkan masyarakat merespon, meminta agar bahan pangan tersebut mudah diakses dan terjangkau. Isu ini yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari sebagai permasalahan swasembada.

Dalam pembangunan pertanian isu swasembada merupakan bagian penting yang menjadi bahasan. Swasembada yang dimaksud merupakan kemampuan pemenuhan kebutuhan pangan yang berorientasi dari dan untuk dalam negeri. Maksudnya adalah pemenuhan kebutuhan pangan dengan memberdayakan petani lokal dan diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan konsumen dalam negeri. Swasembada yang diharapkan tentu berupa ketahanan pangan yang berkelanjutan dengan memberikan nilai tambah dan daya saing pada tiap produk pertanian dengan tidak melupakan aspek kesejahteraan petani.

Dalam kegiatan ekonomi pertanian, kita selalu bingung berhadapan dengan dua pilihan yaitu memanjakan konsumen dengan harga produk yang murah atau menyejahterakan petani lewat pemberdayaan. Hal inilah yang terkadang sangat besar mempengaruhi pengambilan kebijakan pertanian khususnya swasembada berkelanjutan. Belum lagi permasalahan pertanian khas Indonesia yaitu: skala kepemilikan lahan yang sempit, infrastruktur yang kurang memadai, manajemen usaha tani yang masih tradisional dan cenderung individual, anomali iklim, potensi gangguan hama dan penyakit tanaman yang tinggi, keterbatasan informasi pasar dan iptek hingga masalah hilir pertanian berupa rumitnya pembiayaan usaha agribisnis.

Dalam menghadapi permasalahan kelangkaan bahan pangan di Indonesia, pemerintah selalu mengandalkan impor sebagai solusi penyelesaiannya dengan dalih kebijakan sementara. Sangat disayangkan ternyata dalam aplikasinya di lapangan, kebijakan impor ini akhirnya malah menjadi solusi populer yang didahulukan sebagai kebijakan praktis. Kondisi ini tentunya menjadi ancaman bagi dunia pertanian kita ditambah lagi pada tahun 2015 kita akan bersiap menghadapi ASEAN Economic Community. Pada era tersebut tidak ada pilihan lain dalam persaingan ekonomi bebas kecuali dengan menyiapkan diri terutama sektor pertanian dengan cara menguatkan petani dalam negeri.

Melihat berbagai kondisi kekuatan, kelemahan, tantangan dan peluang sebenarnya ada beberapa solusi yang sangat mungkin bisa membantu perbaikan dunia pertanian Indonesia. Berikut adalah beberapa hal yang harus menjadi prioritas dalam usaha perbaikan pertanian Indonesia:

  1. Melaksanakan Amanat Reforma Agraria       

Salah satu pesan utama dari reforma agraria adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memberdayakan tanah negara. Idealnya menurut Peraturan Pengganti Undang-undang No. 56 Tahun 1960 bahwa tiap petani adalah memiliki lahan 2 ha. Hal ini dapat disiasati dengan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memberdayakan lahan negara yang menganggur.

  1. Mendukung Efisiensi Pertanian Lewat Corporate Farming                                   

Karakteristik lahan pertanian di Indonesia umumnya berupa lahan-lahan kecil/ pertanian mikro. Membangun pertanian yang berorientasi pada pertanian kecil tentu lebih sulit dibandingkan skala besar. Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah dengan mengoptimalkan peran kelembagaan pertanian terutama gabungan kelompok tani (gapoktan).

  1. Mendorong Perguruan Tinggi untuk Menggencarkan Aplikasi Inovasi

Perguruan tinggi merupakan salah satu sumber inovasi begitu juga perguruan tinggi pertanian. Namun sangat disayangkan jika inovasi-inovasi yang dihasilkan hanya berakhir dalam makalah-makalah ilmiah saja. Pada dasarnya muara dari tiap inovasi adalah  kemudahannya dalam aplikasi oleh masyarakat. Sehingga sangat diperlukan hadirnya banyak inovasi yang terencana dengan baik, berdasarkan kebutuhan masyarakat/petani maupun mitra yang akan bekerjasama dalam aplikasinya.

  1. Hentikan Konversi Lahan Pertanian ke Industri

Laju perubahan lahan pertanian ke berbagai bidang non pertanian makin marak terjadi. Hal paling nyata misalnya terjadi di daerah, Karawang misalnya yang dulu dikenal sebagai salah satu lumbung padi kini makin berkembang menjadi kawasan industri. Untuk itu perlu pelaksanaan dari UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan. Tujuannya adalah melindungi keberadaan lahan pangan, salah satunya dengan pembukaan pertanian baru yang luas dari tanah negara yang diberikan kepada petani gurem.

  1. Revitalisasi Rantai Pertanian

Revitalisasi rantai pertanian adalah usaha perbaikan pertanian dari mulai sektor hulu sampai hilir. Hal ini dapat dilakukan melalui perbaikan infrastruktur, revitalisasi penyuluh pertanian, fasilitasi pembiayaan pertanian hingga  pengembangan pasar dan pemasaran hasil pertanian.

  1. Menetapkan Rencana Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

Perlu adanya perencanaan pembangunan pertanian  jangka panjang, lintas periode kepemimpinan. Pada dasarnya kebijakan pertanian tidak akan efektif jika terbatas pada masa jabatan presiden dan kabinetnya. Sehingga harus disusun sebuah blueprint pembangunan pertanian yang terarah dan jelas agar dapat mencapai cita-cita besar kedaulatan pangan.

  1. Kolaborasikan Kebijakan Nasional yang Berkaitan dengan Pertanian

Kita perlu menyelaraskan ide pembangunan pertanian dalam arti luas meliputi pertanian, peternakan, kehutanan hingga  perikanan. Pembangunan ini berdasarkan konsep dasar pertanian terpadu diantaranya: Agroforestry (pertanian dan kehutanan), Agropastural (pertanian dan peternakan), Agrofisheries (pertanian dan perikanan), Sylvopastural (kehutanan dan peternakan) maupun Sylvofisheries (kehutanan dan perikanan).

  1. Sinergiskan Pemerintah-Swasta-Akademisi-Praktisi dalam Gerakan Nasional Pembangunan Pertanian

Usaha perbaikan pertanian dengan melibatkan semua unsur yang mungkin berkolaborasi akan mempermudah dan meringankan kerja. Konsep kolaborasi ini pernah dilaksanakan saat adanya program Bimbingan Massal pada tahun 1963-1964. Selain itu peran swasta juga dapat dimaksimalkan dengan mendorong program-program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk masuk ke ranah pertanian dan memberdayakan petani.

Melalui 8 solusi prioritas perbaikan pertanian ini diharapkan percepatan pembangunan pertanian akan dapat dicapai. Sehingga dengan tercapainya swasembada tidak lagi kita temui kelangkaan dan mahalnya bahan pangan. Lewat kemandirian dalam mencukupi bahan pangan kita akan menjadi bangsa yang akan terus tumbuh meski tantangan globalisasi terus mengancam.

Jayalah pertanian! (git)

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisioner Komisi Kepolisian Nasional Adrianus Meliala mengatakan, aksi penembakan polisi yang terjadi dalam dua bulan terakhir berasal dari kelompok radikal. Densus 88 Anti Teror dan petugas reserse diminta untuk mengecilkan target kelompok yang diduga pelaku.

“Sebetulnya nggak perlu intelegensi yang tinggi-tinggi amat. Kalau kita kaitkan kelompok satu dengan yang lain, memang tidak jauh dari kelompok radikal,” ujar Adrianus dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (14/9/2013).

Hal tersebut, lanjutnya, terlihat dari empat aspek seperti motif, pesan, kemampuan menembak, dan akses bersenjata. “Dari segi motif, betapapun Polri dibenci, tidak ada yang mengatakan polisi halal dibunuh. Hanya sedikit sekali,” kata Adrianus.

Dengan demikian, Adrianus menilai solusi untuk menghindari kasus penembakan terhadap polisi kembali terulang bukan dengan melengkapi polisi dengan rompi antipeluru atau pun senjata.

“Polisi fokus saja pada upaya mencari pelakunya. Ini memang bukan pekerjaan polisi, tapi tugas Densus dan Reskrim yang fokus pada ini,” ucapnya.

Adrianus juga meminta peran serta masyarakat untuk membantu aparat kepolisian mencari pelaku aksi penembakan ini.

Rentetan penembakan polisi

Penembakan yang menewaskan Bripka Sukardi, Selasa (10/9/2013), menambah deretan korban penembakan polisi oleh orang tak dikenal dalam dua bulan terakhir. Dengan kematian Sukardi, empat polisi tewas dan satu polisi yang lain terluka.

Selain Sukardi, polisi yang tewas ditembak oleh orang tak dikenal di sekitar Jakarta selama dua bulan ini adalah Aiptu Dwiyatno, Aiptu Kushendratna, dan Bripka Ahmad Maulana. Aiptu Dwiyatno ditembak oleh orang tak dikenal pada 7 Agustus 2013 di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Selang sepekan, tepatnya satu hari sebelum perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, giliran Aiptu Kushendratna dan Bripka Ahmad Maulana tewas ditembak di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten. Sementara seorang anggota polisi yang selamat, meski juga ditembak, adalah Aipda Patah Saktiyono.

Penembakan terjadi pada 27 Juli lalu di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Patah adalah anggota Satuan Lalu Lintas Polsek Metro Gambir, Jakarta Pusat.

 

Editor : Hindra Liauw

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

ndonesia-Malaysia Sepakat Tingkatkan Biodiesel CPO
Sumber Berita : Staf Ahli/Tenaga Ahli
Kuala Lumpur – Menyadari pentingnya penggunaan energi terbarukan di masa depan, Indonesia-Malaysia telah sepakat untuk mempercepat program peningkatan konsumsi biodiesel dalam ranah keperluan domestiknya.
Kesepakatan itu tertuang dalam Joint Communique yang ditandatangi oleh Menteri Pertanian Suswono dan Menteri Industri Perladangan dan Komoditi Malaysia Dato Sri Douglas Uggah Embas di Jakarta di Kuala Lumpur, Jumat (30/8) kemarin.
Pada konferensi pers usai Pertemuan Kerjasama Bilateral Antar Pemerintah Malaysia dan Indonesia ke-8 di KL, Mentan Suswono menegaskan Indonesia sendiri sudah bertekad untuk menerapkan pemakaian   biodiesel dengan kandungan 10% minyak sawit. Sementara Menteri Perladangan Malaysiaa menambahkan pihaknya akan terus memacu penggunaan minyak sawit dalam biodoeselnya.
Dalam pertemuan bilateral kedua negara para menteri menyatakan kepeduliannya terhadap isu-isu hangat seputar hambatan ekspor minyak sawit seperti proposal peningkatan pajak domestik terhadap CPO di Francis dan labeling produk pangan tanpa CPO, proposal kepada parlemen Uni Eropa utk melarang impor CPO untuk biodiesel dari negara-negara perusak hutan, dan proposal China yang berencana melarang penggunaan CPO dalam produk formula untuk anak2 dan produk kesehatan.
Kedua negara memandang isu-isu anti perdagangan CPO tidak lagi substantif dalam perspektif perdagangan, masalah kesehatan dan pengembangan minyak sawit yang berkelanjutan.
Atas dasar itu, kedua menteri meminta kepada para senior officials dari kedua negara untuk terus memonitor perkembangan isu dan mempertimbangkan sebuah misi bersama tingkat menteri (Join Ministerial Mission) ke negara-negara imporir CPO pada tahun 2014. Kedua menteri juga sepakat untuk terus melakukan monitoring isu terkait direktif energi terbarukan Uni Eropa dan NODA (Notice of Data Availability) EPA (Environmental Protection Agency) AS, termasuk mempertimbangkan adanya upaya tindakan hukum atau legal provision di WTO.
Pihak Indonesia dan Malaysia juga sepakat untuk menyelenggarakan seminar bersama terkait isu kesehatan dan manfaat nutrisi dari minyak sawit dalam kerangka menghadapi kampanye anti-sawit, serta melakukan curah pendapat untuk mendiskusikan langkah dan proposal kebijakan menghadapi trend menurunnya harga sawit dunia.
Malaysia, jelas Menteri Perladangan, mendukung penuh upaya Indonesia memasukan komoditas sawit masuk daftar Environment Goods di forum APEC. Sebaliknya, Indonesia, tambah Mentan Suswono, juga mendukung usulan Malaysia yang mengajukan biodiesel masuk daftar Environment Goods di forum APEC.
Pada pertemuan bilateral tersebut, kedua negara juga membicarakan rencana kerjasama dalam riset, promosi dan pemasaran untuk komoditas coklat, lada, dan jarak tropis.

Read the rest of this entry »

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!